Navigation Menu

Tampilkan postingan dengan label kuliner. Tampilkan semua postingan

Kopi Tahlil


Sebelum menjadi terkenal sebagai “Starbucks” nya Pekalongan, kopi ini biasanya disajikan pada waktu Tahlilan (pengajian orang meninggal). Kopi Tahlil paling terkenal berada di gedung PPIP Jl. H.A. Salim. Disana menjadi pusat nongkrong anak muda berbagi cerita dengan menyeruput Kopi Tahlil sambil lesehan.

Kluban Bothok




Hmm… lezatnya sayur urap dicampur dengan lodeh sayur. dan tempe. Pedas dan menggigit. Ditambah dengan kriuknya krupuk usek yang biasa menemani santapan yang biasanya disajikan dengan daun pisang ini. Anda dapat menemukannya di daerah Ambo Kembang dan Pekajangan. Anda harus bergerak cepat untuk mendapatkannya karena makanan ini laris manis jadi harus datang pagi-pagi untuk menikmatinya.

Megono



Megono adalah makanan andalan kota ini. Layaknya Gudeg di Jogja, Megono diolah dari nangka muda yang dipotong-potong kecil kemudian diberi parutan kelapa, kecombrang dan sereh kemudian disajikan dengan nasi yang membuatnya berjuluk Sego Megono. Cocok dimakan kapan saja dan dapat dipadukan dengan hampir semua jenis lauk pauk. Sebagai makanan ‘kebangsaan’ Kota Pekalongan, Anda dapat menemukannya dimana saja baik di warung emperan ataupun rumah makan. Yang paling terkenal adalah Pak Bon yang berada di Jl. H.A. Salim atau lapangan ngebong, Mbak Ibah dan Zarkasy.


Gulai Kambing Kacang Ijo Khas Pekalongan



Menu gule kacang ijo sama dengan bubur kacang ijo biasa dan yang menjadikannya tidak lazim adalah kuah-nya. Kalau bubur kacang ijo umumnya disiram dengan santan kelapa maka makanan khas Pekalongan ini bubur kacang ijonya disiram dengan kuah gulai. Sementara untuk teman lauknya umumnya dengan daging kaki kambing atau daging kepala kambing yang dicincang untuk kemudian ditaburkan di bubur kacang hijau yang sudah disiram dengan kuah gulai tadi, hmmm yummm. 
Menurut asal-usulnya menu gule kacang ijo ini adalah menu yang biasa dikonsumsi orang-orang Arab. Kalau pas mampir di Pekalongan setelah puas belanja batik silahkan isi perut anda dengan menu khas satu ini. Sebagai informasi warung gule kacang ijo ini terletak di Jl. Krapyak Lor IX Pekalongan tersedia juga di utara lapangan sorogenen

Sengkulun, Jajanan lama yang tak lekang oleh waktu. . .



Sengkulun, salah satu jajanan khas Pekalongan yang rasanya istimewa. Sengkulun terbuat dari bahan dasar tepung terigu, daun suji, gula pasir dan gula jawa. Selain rasanya istimewa, Sengkulun juga termasuk jajanan yang sehat. Nikmati keistimewaan Sengkulun hanya di Kota Pekalongan.

Limun Oriental Pekalongan





SUARA gelas kaca beradu terdengar dari halaman sebuah bangunan tua di Jalan Rajawali, tepatnya di belakang Rumah tahanan (Rutan) Pekalongan, (6/5) siang, Aroma moka menyergap hidung saat kita memasuki bangunan bertuliskan “Pabrik Limun, Siroop dan Air soda Oriental” itu. Di dalam bangunan tua bercat kuning pucat itu terlihat sejumlah pekerja menurunkan puluhan kerat botol minuman yang telah kosong dari atas truk.
Sementara beberapa pekerja lainnya membersihkan botol untuk diisi dengan minuman limun. Masyarakat di Kota Pekalongan sering menyebutnya dengan nama limun beruap. “Disebut beruap, karena minuman ini dibuat dari racikan asam citrun dan karbondioksida,” terang Bagian Administrasi Pabrik Limun, Siroop dan Air Soda Oriental, Titik Marhaeni.
Titik menjelaskan, pabrik minuman bermerek “Oriental Cap Nyonya” itu didirikan oleh Njoo Giok Lien sekitar tahun 1923. Pabrik minuman ini disebut sebagai pelopor minuman dalam kemasan botol di Kota Pekalongan. Saat ini, pabrik minuman ini dikelola oleh generasi ketiganya.
Pada masanya, minuman berkarbonasi ini berhasil merebut hati masyarakat Kota Pekalongan. Dulu, kata Titik, produk ini menjadi minuman wajib yang disuguhkan untuk para tamu di Hari Raya Lebaran. “Pada saat Lebaran, banyak warga yang membeli limun beruap ini untuk disuguhkan kepada para tamu yang datang ke rumah,” paparnya. Ada beberapa varian rasa yang diproduksi pada masa itu. Di antaranyalimun oranye, coffe moka, sitrun, sirsak, anggur, leci dan nanas.
Banyak Pesaing

kondisi itu berlangsung hingga medio 1980-an. Karena sejak krisis moneter 1998, dan makin banyak pesaing minuman berkarbonasi merek-merek internasional, pemasaran produk minuman Oriental berkurang. “Kalau ada yang pesan, kami layani, seperti pelanggan di Pemalang, Kabupaten dan Kota Pekalongan,” tambah Titik.

Kini, usia limun beruap hampir satu abad. Pengelolanya berupaya bertahan di tengah persaingan dengan produk-produk minuman lainnya. Selain pertimbangan pabrik minuman ini menjadi sumber penghidupan bagi keluarga karyawan, minuman ini masih ada di hati sebagian masyarakat Kota Pekalongan. Ini menjadi pertimbangan lainnya, sehingga pengelola masih menjalankan pabrik ini di usia yang memasuki satu abad.
Anna Maria, generasi ketiga yang mengelola pabrik ini mengatakan, masih banyak warga Kota Pekalongan yang menyukai limun beruap. Menurut Anna, banyak warga Kota Pekalongan yang bekerja di luar Kota maupun di luar negeri, setiap pulang ke Kota Pekalongan pasti membeli limun beruap.
Masih banyak yang tanya. Dari luar kota juga banyak yang mencari. Bahkan, ada dari Australia, Amerika, kalau pulang ke Pekalongan pasti membeli minuman di sini,” kata dia. Saat ini, pabrik minuman itu hanya memproduksi limun dan air soda. Namun tidak banyak jenisnya. Di antaranya limun orange dan kopi moka. Kini, pabrik minuman ini mengembangkan produk lain, berupa the. Setiap hari, pabrik ini memproduksi sekitar 25 hingga 30 kerat minuman limun beruap. (Isnawati-49)


(SUMBER : SUARA MERDEKA, 12-05-2014)

Popular Posts

Editor@ | alpekalongan